Minggu, 19 Maret 2017

Unachan!! (^3^)

Hai, Blog. Saya tahu kamu bosan dengan sapaan basa-basi ini : Sudah lama ya kita tak bersua.

Tulisan terakhir Saya di blog ini di-posting sekitar lebih dari 1,5 tahun yang lalu. Akhirnya, ada banyak hal yang terlewat, sekaligus bisa menjadi bahan untuk diceritakan. Walau belum tahu juga kapan sempatnya, atau malah dilupakan saja sama sekali :P Rangkumannya sih, sebagai berikut :

-       Dua semester terakhir menjalani pendidikan Magister Profesi PIO
-       Hey, Saya (tiba-tiba) sudah jadi sikoloh, loh!;DD
-       Hey, Saya (tahu-tahu) sudah punya anak kedua, loh!xDD
-       Hey, Saya sudah balik kerja lagi jadi bapak-bapak PNS, loh… *heuh*

Baik, Saya awali tulisan ini dari yang lebih banyak kebahagiaannya dulu : Perkenalkan, anak kedua Kami yang bernama Farunaya Ilmi Adhisya. Lahir di Rumah Sakit Bunda Dalima, BSD, Pamulang, pada hari Jumat tanggal 17 Februari 2017 jam 11.30 WIB. Saya dan Istri sepakat memberikan nama panggilan “resmi” untuknya, yaitu Runa.  

Kehadiran Runa melengkapi keluarga kecil kami, sekaligus menunaikan cita-cita untuk memiliki dua anak. Jarak umur antara Rasya dan Runa memang cukup jauh, yaitu lima tahun. Meskipun demikian, menurut saya ini adalah jarak yang ideal. Di usianya kini, Rasya memang sudah pantas untuk menjadi seorang kakak. Hal ini tampak dari perilaku kesehariannya yang sudah bisa berinteraksi cukup baik dengan orang-orang disekitarnya, dan dapat berperilaku lebih mandiri. Kami berharap, dengan kondisi demikian, Rasya bisa berproses menjadi seorang kakak yang baik. Perlahan-lahan nanti ia juga bisa membantu Ayah dan Mama dalam merawat adik bayi.

Sebenarnya, dibandingkan Saya, Istri sudah lama menginginkan anak kedua. Pertimbangan utamanya adalah faktor umur yang sudah menginjak kepala tiga, dimana hal ini pasti akan mempengaruhi kondisi fisik dan mental. Namun, pemikiran yang saya miliki tentang jarak umur antara anak pertama dan anak kedua, sekaligus kondisi pribadi, terutama mengenai proses pendidikan Mapro yang sedang dijalani, membuat Istri pasrah saja menunggu Saya memperoleh “pencerahan”. 

Dan, “pencerahan” itu akhirnya muncul beberapa minggu setelah saya menyelesaikan tesis dan segala urusan administrasi terkait dengannya.

Saya juga jadi memahami bahwa proses “bikin” anak itu membutuhkan kesesuaian antara kondisi kognitif, afektif, dan psikomotorik :P Ketika salah satu sedang dalam kondisi yang tidak sinkron dengan yang lain, yah kemungkinan besar pasti buyar. Hal ini membuktikan bahwa kondisi psikologis itu tidak main-main loh dalam mempengaruhi kondisi fisik, bahkan sejak proses konsepsi hehehehe....

Soal jenis kelamin anak kedua, sebenarnya bagi Kami, laki-laki atau perempuan sama saja. Hal terpenting adalah, baik Istri maupun anak dalam kondisi yang sehat ketika bersalin. Meskipun tentu saja, Saya pribadi memiliki harapan tersendiri. Saya berharap jenis kelamin anak kedua kami adalah perempuan. Mengapa? Yah, tidak ada alasan spesifik juga. Mungkin biar terasa lebih lengkap dengan memiliki anak laki-laki dan perempuan, atau mungkin karena saya memiliki hobi dan ketertarikan terhadap idol group jejepangan yang kawaii :P 

Oke, yang lebih mungkin memang pilihan yang kedua sih :P

Satu hal yang terasa aneh bagi Saya dan Istri, adalah tentang betapa lebih santainya Kami, selama proses kehamilan Runa. Bila dibandingkan dengan kehamilan pertama dulu, rasanya segalanya terasa lebih heboh pada waktu itu. Hal ini juga tidak begitu jelas penyebabnya, antara memang kami sudah berpengalaman, atau saya yang terpaksa berhubungan jarak jauh dengan Istri mulai kehamilan trimester terakhir. Bisa jadi juga karena untuk kehamilan kedua ini, Istri berada dekat dengan keluarganya, sehingga ada banyak orang yang membantu sehari-hari. Apapun itu, syukurlah proses kehamilan dan persalinan istri saya berlangsung dengan lancar : ibu dan bayi dalam kondisi sehat, mendapat Rumah Sakit yang bagus pula untuk bersalin, hingga asuransi BPJS yang kami ikuti juga memudahkan segala persoalan pembiayaan.

Terakhir untuk tulisan kali ini, adalah tentang nama anak kedua kami. Untuk kali ini, 100% nama adalah buatan saya. Ajaibnya, Saya dan Istri memiliki – sebagian – ide yang serupa, meskipun sama sekali belum pernah membicarakan hal tersebut sebelumnya. Jujur, mungkin karena memiliki harapan ingin memiliki anak perempuan, saya hanya menyiapkan satu nama saja, tanpa ada rencana B, apabila yang lahir nantinya ternyata anak laki-laki. Jadi, ada perasaan lega juga ketika anak kedua kami ternyata perempuan.

FARUNAYA :
Saya ambil dan modifikasi dari kata “Varuna”, yang merupakan nama Dewa Air dan Samudera dalam ajaran agama Hindu, sekaligus salah satu sifat ideal yang tertuang dalam falsafah kepemimpinan Asta Brata. Seorang pemimpin dengan sifat Varuna (Samudera), berarti dirinya memiliki wawasan yang luas, mampu mengatasi setiap gejolak dengan baik, penuh kearifan dan kebijaksanaan.
Saya baru mengungkapkan kepada istri, tentang rancangan nama anak kedua kami, saat minggu-minggu terakhir menjelang persalinannya. Uniknya, istri saya juga mengungkapkan bahwa ia sudah sempat terpikir dan menyukai kata “Aruna” untuk nama anak kami tersebut. Meskipun nyaris serupa, makna harafiah dari “Aruna” adalah warna cokelat kemerahan atau saat fajar, sekaligus nama seorang Dewa dalam Hindu, yang mengendalikan Dewa Matahari, Surya, di sepanjang langit. Seseorang dengan nama “Aruna” diharapkan menjadi individu yang kreatif, dinamis, independen, siap menerima tantangan apapun, dan mampu mengungkapkan pemikiran secara terbuka.
Apapun artinya, baik “Varuna” maupun “Aruna”, menjadi harapan dan doa yang baik : Runa memang seorang perempuan, tetapi di masa yang akan datang, kami berharap ia menjadi sosok yang tangguh, kuat, berwawasan luas, dan bisa menjadi seorang pemimpin yang hebat pula, tak kalah dengan laki-laki.

ILMI :
“Ilmi” berarti “Ilmu”. Kami berharap semoga Runa menjadi sosok yang tak henti-hentinya belajar, memperluas ilmu pengetahuan dan pergaulannya di dunia ini, sehingga menjadi sosok yang ahli di bidangnya sekaligus dapat memberikan manfaat untuk sesama manusia dan semua makhluk di alam semesta.  

ADHISYA :
Akronim dari nama Saya dan Istri. Bagian nama belakang ini yang justru butuh waktu lumayan lama bagi Saya untuk mengutak-atiknya. Maklum, hasil jadinya memang terkesan generik, hingga akhirnya Saya mampu berdamai dengan diri sendiri, dan membuat rasionalisasi : “Ini kan 'berbeda'. Jarang atau hampir ga ada kali, orang dengan nama ‘Adhisya’, tetapi berasal dari penggabungan nama kalian berdua”. Kata “Adhisya” juga terdengar keren dan tetap cantik :P





Jumat, 22 April 2016

Gadis Dengan Motivasi Berprestasi yang Amat Tinggi

Tekad dan kegigihanmu sungguh luar biasa
Hingga semaksimal apa pun aku mencoba
Seolah tak akan pernah menyamainya

Duhai dirimu
Gadis dengan motivasi berprestasi yang amat tinggi
Maukah kau lambatkan sejenak langkahmu?
Agar kau juga tahu, dirimu tidak sedang sendiri

Kepada dirimu
Gadis dengan motivasi berprestasi yang amat tinggi
Maukah kau sejenak melihat dibelakangmu?
Kami berjuang keras menyesuaikan diri

Harus tetap diakui, bahwa karakter dirimu itu
Menarik perhatian, menciptakan kekaguman, sekaligus menakutkan
Berulang bertanya "Bagaimana bisa?"
Sia-sia saja, karena tak akan pernah terjawab sempurna

Duhai dirimu
Gadis dengan motivasi berprestasi yang amat tinggi
Maukah kau lambatkan sejenak langkahmu?
Agar kau juga tahu, dirimu tidak sedang sendiri

Kepada dirimu
Gadis dengan motivasi berprestasi yang amat tinggi
Maukah kau sejenak melihat dibelakangmu?
Kami berjuang keras menyesuaikan diri

Sabtu, 01 Agustus 2015

Lagu Caca

Cakrasyadhia Nafii Pradana, anakku sayang
Cepatlah besar, sehat selalu, juga ceria
Cakrasyadhia Nafii Pradana, anakku sayang
Cepatlah besar, sehat selalu, juga gembira

Itulah isi dari lirik senandung tidur, yang biasa saya nyanyikan kepada anak saya, Rasya. Saya menciptakannya sejak ia berumur beberapa bulan, secara tidak sengaja. Ya, saya anggap hal tersebut sebagai suatu ketidaksengajaan, karena saya sama sekali tidak memiliki dasar bermusik yang baik.

Kata-kata dalam liriknya muncul secara spontan, begitu juga nada untuk melagukannya. Sekarang, entah karena sudah akrab sejak lama atau memang kemampuan memorinya yang sedang luar biasa, Rasya telah mampu menyanyikan sendiri senandung tidur tersebut. Ia memberikannya judul “Lagu Caca”. Caca adalah bagaimana Rasya menyebut namanya sendiri.

Senandung tidur untuk Rasya yang saya ciptakan itu, bisa jadi memang spontan. Di sisi lain, sepertinya kemampuan kognitif dan afektif yang saya miliki, menuntun secara asadar supaya kata-kata tersebut bernilai positif, dan semoga saja menjadi doa yang baik bagi perkembangan diri Rasya.

Bila dilihat kembali, liriknya dapat dipandang sebagai permohonan sederhana dari saya (dan tentu juga istri), supaya Rasya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Kedua hal ini berlaku untuk kondisi fisik dan mentalnya. Saya ingin dia selalu ceria dan gembira, sehingga mampu mengeluarkan potensi terbaiknya. Lebih jauh, semoga keceriaan dan kegembiraan Rasya dapat mempengaruhi lingkungan sekitarnya supaya dapat merasakan hal serupa.

Mengeloni atau menidurkan anak memang menjadi salah satu kegiatan favorit saya sebagai orangtua. Saat Rasya saya peluk, lalu dia mengambil posisi meringkuk, dilanjutkan dengan percakapan ringan (walau kadang logika saya memberikan pertanyaan sinis,”memang bocah balita itu memahami pembicaraan ini?”), hingga akhirnya ia (atau malah kami) tertidur. Seringkali pula senandung tidur di atas, tetap saya nyanyikan untuknya. Kali ini, kami sudah bisa bernyanyi bersama.

Saat Rasya telah tertidur, saat itu pula kesadaran diri akan peran sebagai seorang ayah itu muncul. Ketika memandang wajahnya yang terlelap pulas itu, muncul rasa tenang dan optimisme, untuk terus berjuang melanjutkan hidup dan meyakini bahwa semua tantangan yang dihadapi sehari-hari itu bisa dilewati. Soalnya dilewatinya bagaimana dan hasilnya apa, itu urusan nanti hehehehe…  

 photo IMGP1821_zpsjetzzbvm.jpg

Selasa, 14 Juli 2015

Harap Tenang dan Terus Berjalan: Menuju Semester Tiga

Halo, Blog…

Pertama-tama, saya mau mengucapkan rasa syukur karena telah berhasil melewati semester kedua dalam mengikuti pendidikan di Magister Profesi Psikologi Industri dan Organisasi, dengan sukses, sehingga bisa melanjutkan ke semester tiga. Sayang, dua orang teman seangkatan yang terhitung cukup akrab dengan saya harus tertunda studinya, karena ada mata kuliah yang tidak lulus. Ketika mendapat kabar tersebut, ada rasa tidak percaya bahkan juga tidak rela. Meskipun begitu, kami tetap saling mendukung, serta percaya bahwa apa-apa yang dialami merupakan bagian dari rencana terbaik-Nya.

Saat ini, saya dan teman-teman yang berhasil melanjutkan ke semester tiga sedang sibuk dan kembali ketar-ketir, walau saya pikir kondisinya lebih terkendali. Pada semester tiga, kami memasuki program Praktek Kerja Psikologi (PKP). Kami harus mencari tempat PKP sendiri untuk seluruh kegiatan. Hal ini berbeda dengan rekan-rekan profesi pada peminatan psikologi pendidikan, psikologi klinis dewasa, dan psikologi klinis anak, yang tempat PKP-nya telah ditentukan oleh kampus.

Kegiatan PKP atau kasus untuk program Magister Profesi PIO, meliputi:

-          Asesmen & Intervensi Organisasi (Organizational Development)
-          Analisis Jabatan / Analisis Beban Kerja (Workload Analysis)
-          Asesmen Tenaga Kerja, yang terdiri atas: Seleksi / Rekrutmen, Mapping / Promosi, dan Assessment Center
-          Pelatihan (Training)

Dapat dilihat di atas, terdapat sekitar tujuh kegiatan / kasus, dimana masing-masing harus dilaksanakan di tempat (perusahaan/institusi) yang berbeda-beda pula. Hal ini merupakan ketentuan dari kampus, dan bisa berbeda di kampus yang lain. Saya memperoleh informasi bahwa di kampus lainnya dapat melaksanakan kegiatan / kasus PKP pada perusahaan yang sama untuk seluruh atau beberapa kegiatan. Akhirnya, dengan waktu yang cukup terbatas dan ditambah dengan adanya libur hari raya, saya dan teman-teman pun berjuang ke banyak perusahaan di Jakata dan sekitarnya untuk “menawarkan” program-program kegiatan PKP tersebut supaya dapat dilaksanakan disana. 

Di sisi lain, fungsi saya dan teman-teman lebih sebagai “penghubung”, jadi ketika suatu perusahaan sudah menyatakan siap menerima pun, kami tidak bisa langsung sepakat melakukan kegiatan disitu, karena tetap membutuhkan persetujuan dan arahan dari dosen pembimbing. Tugas awal yang sudah cukup berat, meskipun nilai positifnya adalah kami dapat memperoleh wawasan yang luas tentang organisasi / institusi calon tempat PKP, menambah relasi, dan belajar melakukan presentasi dan negosiasi dengan pihak perusahaan.    

Saya sendiri sudah merasakan bahwa tugas-tugas yang akan dijalani nanti akan semakin berat daripada semester-semester sebelumnya. Apalagi dengan tuntutan dan tenggat waktu yang diberikan. Waktu pelaksanaan seluruh kegiatan PKP berjalan mulai bulan Agustus hingga Desember. Pada bulan Januari tahun depan, setelah menyelesaikan seluruh kegiatan PKP, terdapat ujian komprehensif, dimana yang menguji adalah pihak HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) yang berasal dari luar lingkungan kampus tempat kami mengikuti pendidikan.

Segala macam rasa takut dan ketidakamanan itu kembali muncul. Saya hanya bisa meyakinkan diri untuk terus fokus di masa kini, dan berusaha untuk tidak paranoid terhadap hal-hal di masa datang yang belum terjadi. Konsistensi diri sendiri dan kerjasama serta saling mendukung antara peserta pendidikan adalah kunci utama, yang terus didengung-dengungkan oleh para dosen dan senior. Semoga seluruh kegiatan kami dilancarkan pelaksanaannya, dijauhkan dari segala macam halangan dan rintangan, sehingga kami semua dapat lulus tepat waktu dengan nilai yang baik pula.


Owh, iya. Hari raya Idul Fitri tinggal beberapa hari lagi. Saya memohon maaf lahir dan batin apabila selama ini ada tulisan saya di blog ini yang kurang berkenan, terlalu negatif, atau terlalu banyak berisi keluhan dan hal-hal narsistik lainnya. Mohon dukungannya selalu supaya blog ini dapat terus konsisten diisi dengan hal-hal yang bermanfaat :) 

Senin, 08 Juni 2015

pet co pet co pet co pet >.<"

2015 – 2003 = 12

Akhirnya, saya kecopetan hape lagi setelah 12 tahun. Kemampuan copet-sense yang saya miliki setelah pengalaman pertama kali dicopet tahun 2003 dulu masih bekerja dengan baik, kok. Sayang, kali ini terlambat sekian detik. Saya juga baru menyadari, bahwa copet-sense tersebut tidak begitu berguna tanpa nyali yang kuat #sial

Kejadiannya pada hari Rabu lalu, tanggal 3 Juni 2015.

Saya sedang dalam perjalanan dengan menggunakan kereta commuter line dari Bogor menuju Stasiun Sudirman. Tujuan akhir saya adalah Thamrin City dan Grand Indonesia. Tidak ada maksud khusus, hanya ingin jalan-jalan saja.

Singkat cerita, sampailah saya di Stasiun Sudirman. Hape saya taruh di kompartemen bagian depan tas punggung, kemudian saya berjalan kaki menuju shelter busway ICBC, untuk menyeberangi jalan menuju Grand Indonesia.

Biasanya, saya selalu memakai tas tersebut di bagian depan, namun saat itu, untuk alasan yang saya sendiri juga tidak ingat dengan jelas (atau emang sudah suratan takdir saja :p), saya memakai tas tersebut di belakang dan berjalan secepat mungkin dengan penuh kewaspadaan.

Saya menaiki tangga shelter busway dan disini lah inti kejadiannya. Karena kondisi tangga naik yang sedang cukup padat, saya terpaksa melambatkan langkah. Kemungkinan besar, saat inilah si copet sudah berada di belakang dan mengincar tas saya. Saya sampai ke bagian atas shelter, berjalan beberapa langkah, lalu merasakan sesuatu yang aneh.

Saya merasakan tas seperti bergerak berlawanan dengan arah yang seharusnya. Okay, sepertinya tas saya sedang dirogoh seseorang. Saya sempat menoleh ke belakang, melihat seorang laki-laki berdiri tepat di belakang. Saya langsung mempercepat langkah. Sekitar 10 langkah kemudian, saya membalik tas tersebut, dan VOILA!! Bagian depan tas tempat saya menyimpan hape tersebut telah terbuka, dan jelas, hape saya sudah tidak ada lagi disitu.
Syukurlah saya menyimpan dompet di kompartemen bagian tengah tas, yang lebih sulit dijamah. Barang-barang lain yang berada di kompartemen bagian depan tas juga masih komplit semua: MP3 player, kunci motor, hape cadangan, dll.

Selanjutnya… Entahlah… Saya langsung merasa pasrah saja. Bahkan ketika seorang satpam gedung yang tersambung dengan shelter busway tersebut menghampiri dan berusaha membantu dengan memberikan beberapa saran, saya tetap tenang, tidak terlalu memaksakan diri untuk mengejar atau mencari si copet yang mungkin belum jauh dari TKP. Yaaa, sedikit sebal tentu saja ada, tapi saya tidak mengalami atau melakukan reaksi emosional yang berlebihan atas hal tersebut.

Saya langsung menghubungi istri untuk menyampaikan apa yang baru saya alami, dan malah dia yang tampak lebih heboh reaksinya :p Lalu, pergi ke konter resmi kartu SIM yang saya gunakan untuk memblokir nomer, dan membuat kartu SIM baru dengan nomer yang sama. Terakhir, menghubungi Ayah saya yang sedang berada di Bontang untuk menyampaikan bahwa putra sulungnya baru kecopetan hape lagi. Setelah ituuuu… Saya kembali melanjutkan jalan-jalan, menyempatkan makan enak, dan bermain “untung-untungan” atas kejadian kecopetan kali ini, seperti:

“untung bukan dompet yang diambil”
“untung ga pake ditodong”
“untung bukan kamera yang diambil” (Saat itu saya juga sedang membawanya)
“untung tidak ada data-data penting di dalam hape yang dicopet tersebut” (Walau ada beberapa foto keluarga yang belum sempat saya backup)

Saya juga melakukan pemaknaan (sok) positif seperti:

“emang sudah saatnya itu hape diganti” :p
“Kecopetan itu tanda-tanda akan adanya hal baik yang akan segera menghampiri” (ini hal yang juga biasa saya katakan pada rekan-rekan yang baru mengalami musibah semacam ini :p)
“Mungkin juga peringatan kecil dari-Nya supaya ga sering ‘lupa’”
“Pengalaman supaya copet-sense-nya semakin baik lagi di kemudian hari”
“Hape boleh ilang, tapi bukan cinta” #eh xDD

Daaannn…. Berbagai macam pemaknaan lainnya. Sebagian logis, sebagian mengada-ada.

Untuk kalian semua yang membaca tulisan ini, tetap waspada yaa, baik di lingkungan tempat anda tinggal dan beraktivitas, terutama di kota konyol Jakarta :p Satpam gedung yang berusaha membantu saya mengatakan, bahwa si copet itu sepertinya emang spesialis di shelter busway tersebut. Selain itu, saat ini juga sudah menjelang bulan Ramadhan dan hari raya. Jadi, mungkin sebagian orang yang lupa bahwa yang utama pada hari besar tersebut adalah ibadah dan bukannya pamer harta, banyak yang khilaf. Ironis, ya? Ah sudahlah… Semoga hape itu lebih berguna buat si copet. Walau saya juga sempat berharap punya apps yang bisa meledakkan hape tersebut dari jarak jauh biar dia kapok >:P


Rabu, 27 Mei 2015

Setidaknya Dalam Kondisi Masih Hidup (2)

Semester kedua saya mengikuti pendidikan di Magister Profesi Psikologi Industri dan Organisasi sudah hampir berakhir. Berakhir dengan banyak ketidakjelasan dan kekhawatiran seperti yang sudah saya sampaikan pada tulisan sebelumnya.

Saat ini saya dan teman-teman tinggal menunggu satu beban lagi, yaitu feedback dari dosen untuk merevisi laporan tugas mata kuliah Intervensi Organisasi. Jadi, kondisinya saat saya mengetik ini yaaa.... dibilang libur juga bukan, dibilang masih aktif kuliah juga iya. 
Sungguh menegangkan. 

"Cobaan" terakhir kami kemarin adalah Ujian Akhir Semester (UAS) tertulis mata kuliah Psikodiagnostik. Ujiannya berupa kasus (blind case) dan close book!! Yep, close book
Padahal modal waktu kami untuk mempelajari beraneka ragam psikotes tersebut amat singkat, dan keknya kalo nanti sudah kerja juga ga bakalan bisa lepas dari berbagai macam buku "primbon" interpretasi psikotes-psikotes tersebut. 

Ada teman dari peminatan lain yang bilang, malah bagus kalo ujiannya close book, artinya yang mau dilihat lebih kepada pemahaman dan bukan kesempurnaan laporan. Ya tapi tetap aja lah ya kepikiran. Apalagi dosen-dosen yang mengajar ada empat orang untuk satu mata kuliah tersebut, dimana tiga diantaranya adalah dosen senior dan cukup saklek dalam menilai. 

Lalu, setelah UAS-nya selesai, langsung terbit nilai-nilai mata kuliah Psikodiagnostik tersebut yang berasal dari tiga buah tugas kelompok, serta hasil Ujian Tengah Semester (UTS). Bagi saya pribadi, semua angkanya penuh kegamangan dan amat tipis, dimana kampus mensyaratkan nilai minimal 7 (B) untuk lulus mata kuliah dan bisa melanjutkan ke semester berikutnya. 

Cumaaa... ya gimana ya... sudah lewat semua. 

Oke, saya mungkin masih harus kagok menangani pace kuliah yang mudah berubah ini, akibatnya belajar menjelang ujian pun juga jadi seadanya. Sekarang tinggal bisa berdoa, dan saya pikir perjuangan sudah maksimal.

Semoga saya dan teman-teman lulus semua dan bisa melanjutkan bersama-sama ke semester berikutnya. AMIN.  

Senin, 30 Maret 2015

Setidaknya Dalam Kondisi Masih Hidup...

Halo, Blog… Ini Ilham, kembali untuk mengisi dirimu…

Jadi… Kuliah Mapro di semester kedua ini benar-benar berat. 
Saat ini, saya baru saja menyelesaikan blok pertama. Kondisi pribadi, baik fisik maupun mental, amat lelah. Kekhawatiran bahwa hal yang paling buruk akan terjadi, masih belum menghilang dari pikiran. Bagaimana mau menghilang, kalo semua indikator ke arah yang jelek-jelek itu benar-benar (terasa) nyata. Saya sekuat tenaga berpikir positif. Semoga yang terbaik diberikan untuk diri saya, dan semua teman-teman. Semoga kami diluluskan untuk semua mata kuliah, dan tetap dalam kondisi utuh hingga nanti lulus menjadi psikolog.

Diluar dari persoalan teknis perkuliahan, saya belajar banyak dari hal-hal non-teknis yang terjadi. Belajar banyak disini maksudnya memaknai segala “derita” dan tantangan yang baru saja terlewati, walau masih akan berlanjut nantinya. 
Hal-hal non-teknis itu apa saja? Yah, mulai persoalan dinamika kelompok, relasi dengan pihak perusahaan, hingga saat-saat dimana kondisi finansial kembali berada di titik terendah.

Persoalan dinamika kelompok yang saya maksud adalah untuk mata kuliah Assessmen Organisasi, yang nanti dilanjut dengan Intervensi Organisasi. Saya sekelompok dengan teman-teman yang semuanya memiliki pribadi “unik”, dan kami sekuat tenaga menyatukan diri untuk mampu bekerjasama, mengesampingkan perbedaan yang ada, dan menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawab kami. Namun, semua hal tersebut benar-benar terasa berat. Saya sendiri memandangnya sebagai pelajaran untuk lebih baik lagi dalam menjadi pemimpin dan orang yang “dituakan”. Entahlah. Semoga usaha kami tidak sia-sia….

Relasi dengan pihak perusahaan. Saya baru menyadari, bahwa memasuki suatu perusahaan untuk melakukan penelitian, ternyata tidaklah mudah. 
Saya memang terlalu naif dan kurang berpengalaman untuk hal ini. 
Saya baru tersadar bahwa perusahaan pun memiliki birokrasi yang jenjangnya tak kalah dengan pemerintahan. Amat besar tantangannya untuk membuat mereka percaya pada kami yang masih amatiran ini. Sekedar niat baik dan tampang polos saja jelas tidak cukup, atau malah bisa menjadi bumerang yang menyerang balik. Faktor jaringan dan kemampuan untuk persuasi menjadi amat penting, sementara saya amat lemah dalam menjalankan hal-hal seperti itu. 
Saya memang masih harus banyak belajar, setidaknya untuk percaya pada diri sendiri. 
Bagaimana mau membuat pihak lain percaya pada diri saya, sementara saya selalu meragukan diri sendiri. 
Konyol…

Persoalan finansial. 
Mengatur uang di Jabodetabek itu sulit. 
Sebaik apapun perencanaannya, kemungkinan untuk hanya habis di ongkos dan konsumsi pangan itu amatlah besar. 
Gara-gara hal ini saya sampai terpikir untuk mengadakan penelitian pada para PNS Kota Bontang yang sudah sukses menjalani Tugas Belajar. Ya, saya juga menyampaikan ini pada atasan, namun keknya maksudnya belum dipahami secara menyeluruh. Bro, ga semuanya bisa diatasi dengan sekedar “dijalani dan dinikmati saja”. Ibarat ikan yang sedang terdampar di daratan, lalu meminta tolong pada seekor monyet untuk dikembalikan ke air, dan malah mendapatkan respon “Sudah, ikan. Syukuri saja kondisimu saat ini.” Yaelah, disyukuri bagaimana? Ikan itu sedang menggelepar sekarat dan sebentar lagi mati. Ah ngomong apa saya ini? Kok malah jadi melantur. Sepertinya pengaruh obat-obat flu dan antibiotik itu mulai bekerja di otak. Tapi, bener. Setidaknya melalui penelitian semacam itu, dapat diketahui bagaimana para pegawai tersebut sukses. Ya sukses mengatur keuangan, sukses di akademik, sukses di pergaulan, sukses mengatur keluarga selama belajar, mengetahui karakteristik lokasi tiap-tiap kampus tempat mereka menimba ilmu, dll. Semoga ini tidak menjadi bulsit saya saja seperti yang sudah-sudah.


Blok kedua akan dimulai pada hari Senin, tanggal 6 April 2015. Saya yakin akan sama saja beratnya dengan blok pertama. Satu mata kuliah ada tugas penelitian yang harus dikerjakan secara personal, kelompok assessmen organisasi masih berlanjut ke intervensi organisasi dengan modal dari tugas sebelumnya yang hasilnya masih absurd, dan psikodiagnostik pasti bakal penuh dengan tugas laporan yang menyita waktu dan tenaga. Semoga saya disehatkan, dikuatkan, dilancarkan, dimudahkan, dan diluluskan dalam menghadapi perkuliahan ini. Amin….